Senin, 09 November 2015

Kishayu

“Hei kalian tunggu dulu”, terdengar oleh eka ada yang memanggil gerombolannya.
“Iya kak, ada apa?”, tanya eka yang ternyata dipanggil oleh Bayu, yaitu seniornya.
“Aku beri info sekilas aja ya soal ospek kali ini,” jelas bayu pada eka dan teman-temannya.
     Setelah menjelaskan semuanya, eka dan teman-temannya lanjut pulang menuju ke rumah masing-masing. Masih terlintas dalam pikiran eka, kenapa senior itu lebih meminta nomer telfonnya ketimbang teman yang lain karna memang ada salah satu teman laki-lakinya. Sejak kejadian itu eka merasa ada yang baru dalam hidupnya, dan benar saja bahwa dia mengalami perjalanan yang luar biasa dalam kehidupan cintanya.
     1 tahun setelah kejadian itu terjadi dalam kehidupan eka, dia merasa bahwa menemukan orang yang terlambat dalam hidupnya, sungguh dia merasa sedih kenapa baru sekarang ada orang yang sama-sama mau berjuang dengannya. Bahkan bayu rela untuk melakukan apapun demi mendapatkan eka. Eka tak pernah bosan menceritakan semuanya kepada teman-temannya di kampus. Namun, semua sedikit berbeda ketika bayu sudah lulus dan harus berpisah dengan eka.
Pada suatu siang, bayu sengaja menelfon eka…
“Hai sayang, kamu lagi ngapain ini?,” tanya bayu.
“Aku masih di kampus nih sayang, aku lagi urus skripsi ku sayang. Bentar lagi aku akan nyusul kamu deh.” Jawab eka dengan nada yang amat gembira.
“Kamu harus lulus tepat waktu ya sayang, supaya kamu juga buruan bisa lanjut S2 sayang.” tambah bayu yang sambil sedikit memberi motivasi.
“Ah itu mah gampang sayang, yang paling aku tunggu-tunggu adalah janji mu untuk mengajak ku tunangan sayang.” jawab eka dengan nada yang semakin bersemangat sambil ketawa kecil.
Namun, tiba-tiba telfon bayu terputus. Eka yang mendengar nada tut…tut…tut… di ujung telfon pun merasa jengkel kepada bayu yang di pikir sengaja mematikan telfonnya. Bahkan, 1 jam sudah eka menunggu kabar dari bayu lantas tetap tidak ada sama sekali, sms, bbm, wa, line bahkan telfon dari bayu. Dengan kejadian hari ini eka sungguh benar-benar di buat kecewa oleh bayu.
Keeseokan harinya, di waktu yang sama dan suasana yang mirip pula bayu menelfon eka lagi.
“Hai sayang ku”, sapa bayu dengan nada yang sumringah.
“Ada apa?,” jawab eka dengan singkat.
“Kamu marah ya sayang sama aku?,” tanya bayu.
“Ya coba kamu pikir lah, aku lagi ngomong serius kamu tiba-tiba matikan begitu saja telfonnya.” jawab eka dengan nada yang naik.
“Iya sayang ku, aku minta maaf aku sudah salah, aku tidak bermaksud untuk menutup telfon sayang.” jawab bayu dengan pasrah.
“Lalu apa penjelasan mu?,” tanya eka dengan nada yang semakin naik.
     Namun, lagi tiba-tiba telfon dari bayu terputus. Eka semakin merasa dipermainkan oleh bayu. Bahkan raut wajah eka sudah mulai terlihat memerah seperti ada amarah yang ditahannya. Kali ini eka benar-benar merasa bahwa bayu tidak serius lagi terhadap hubungan mereka.
     Setelah kejadian itu, bayu tidak pernah lagi menghubungi eka. Kini eka mulai merasa aneh bercampur rindu yang tak tertolong karena bagaimana pun juga bayu adalah orang yang mau berjuang untuknya. Tepat hari itu, adalah hari dimana eka harus menjalani siding skripsinya, dan tanpa ada kabar sedikit pun dari bayu. Eka berhasil menjalani siding itu dan dia dinyatakan lulus oleh pihak civitas. Namun naas, ketika bayu tiba-tiba menelfon eka saat setelah keluar dari ruangan sidang.
“Hai sayang, selamat ya kamu akhirnya sudah lulus. Aku sudah nggk sabar nih ketemu kamu di sini.” ucap bayu.
“Kamu tahu darimana aku hari ini siding?,” tanya eka dengan merasa aneh darimana bayu bisa tahu.
“Aku tahu dari ibu sayang, aku sering kok tanya kabar mu kewat ibu.” jawab bayu dengan sedikit senyum.
“Kamu ini ya, malah sering hubungi ibu. Sudah tahu aku ini lagi ngurus skripsi ku malah kamu tinggal. Aku itu kangen kamu tahu sayang.” jawab eka dengan sambil menangis.
“Maaf kan aku sayang ku, aku terlalu sibuk dengan persiapan ku yang lain sayang.”
“Persiapan apalagi yang sehingga membuat mu lupa akan aku?,” tanya eka dengan nada yang naik.
     Namun, untuk ketiga kalinya telfon bayu terputus secara tiba-tiba. Tidak lagi marah atau kecewa, eka sekarang menangis karena perlakuan bayu padanya. Dia sekarang takut, takut akan kehilangan bayu karena bayu adalah orang yang sangat dia cintai. Bahkan dia lebih mengidealkan bayu dari apapun.
     Tiba saatnya eka melaksanakan wisuda. Namun, tidak terlihat bayu ada rombongan keluarga yang hadir dalam acara tersebut. Sepanjang acara wisuda eka hanya berharap ketika dia keluar nanti bayu akan datang dengan membawakan bunga untuknya. Semua berjalan lancar untuk wisuda, tetapi untuk kehadiran bayu tidak. Bayu tidak ada di sana bahkan sampai eka menunggu setelah keluar dari gedung. Dengan perasasaan yang teramat sedih, eka akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumah bersama rombongan keluarganya. Tiba-tiba di tengah jalan mereka di kejutkan oleh seorang pemuda yang nekad naik di atas gedung lantai 14 yang membuat lalu lintas macet.
“Ada apa ayah?,” tanya eka pada ayahnya.
“Itu kak, ada orang yang nekad berdiri di atas lantai 14 nak.” jawab ayahnya.
     Suasana dipenuhi dengan klakson mobil yang saling berebut untuk mendahului, namun semua hening ketika pemuda itu berbicara lewat toa yang dibawanya ternyata.
“Untuk kamu yang ku sayang, terima kasih karena kamu telah berjuang untuk ku.” jawab pemuda itu.
     Seketika eka kaget mendengar perkataan orang itu, dalam saat itu pula dia semakin sedih karena teringat bayu. Dia berandai itu adalah bayu, mungkin dia akan merasa bahagia mendapatkan perlakuan seperti itu. Namun, dia hanyalah seorang sinting yang beridir di atas gedung berlantai 14.
“Kak, kita mampir ke rumah teman ayah dulu ya.” ajak ayah eka secara tiba-tiba.
“Iya deh ayah, eka ngikut ayah aja.”, jawab eka.
     Sepanjang perjalanan hanya bayu, bayu, dan bayu yang eka pikirkan karena dia merasa takut akan kehilangan bayu. Satu jam perjalanan akhirnya eka dan rombongan sampai di rumah teman ayahnya. Ayah eka meminta eka untuk turun duluan untuk memastikan bahwa apakah ada orangnya di rumah. Tanpa berpikir panjang, eka pun langsung turun dan menghampiri rumah itu.
“Permisi, apakah ada orang di dalam?,” eka sedikit berteriak sambil mengetuk pintu.
Betapa kagetnya ketika yang membukakan pintu itu adalah bayu. Tanpa berpikir panjang, eka langsung memeluk bayu di depan pintu rumah itu.
“Sayang, kamu kemana saja selama ini?,” tanya eka sambil memeluk bayu dengan isak air mata.
“Aku cuman lagi persiapkan semuanya saja sayang.” jawab bayu dengan sedikit melepaskan pelukannya.
Kemudian bayu menjelaskan kepada eka bahwa sebenarnya…
“Sayang, sejujurnya aku hanya menguji waktu telfon ku tiba-tiba mati. Aku senang sayang, karena ternyata kamu tidak berubah sama sekali, bahkan ketika kamu ada kesibukan pun kamu masih selalu ingat aku. Aku melakukan ini bukan karena aku main-main, tapi karena aku serius.”
Tiba-tiba saja...
“Aku ingin mengajak mu bertunangan dengan ku, maukah kamu menerima ini sayang?.” tanya bayu sambil menunjukkan cincin yang dibawanya.
“Aku mau sayang.” jawab eka dengan mata yang berkaca-kaca.

     Setelah eka menerima cincin dari bayu, kemudian dia memalingkan badan dan menatap ayah dan ibunya yang ternyata sudah berdiri di depan mobil. Ayah dan ibunya pun hanya melempar senyum dan melambaikan tangan lalu masuk ke dalam mobil untuk meninggalkan mereka di Kishayu.

Sabtu, 23 Mei 2015

Garam ≠ Teh

Garam ≠ Teh
Siang itu, udara terasa sangat panas hingga membuat peluh keringat ku jatuh. Aku berada di atas puncak gunung tertinggi di pulau Artamus. Aku dan rekan-rekan kuliah ku sedang melakukan pendakian di gunung Nadem. Meskipun udara terasa sangat panas, kesejukan alam ini tak pernah disuguhkan ketika aku hidup dan berlalu lalang di dasar gunung. Sungguh, suasana di atas puncak gunung inilah yang membuat ku merasa ingin kehidupan di dasar gunung juga sama suasananya seperti di atasnya. Namun, semua itu hanya kemustahilan yang bermuara dari ketidakmungkinan dalam realita kehidupan saat ini. Saat menikmati suasana di atas puncak gunung, tiba-tiba terdengar suara dari sepasang sepatu yang bergesekan dengan bebatuan jalur puncak gunung Nadem.
“Ron, lagi ngapain loh?”, terdengar ada yang memanggil ku, dan seketika ku toleh ke belakang.
Dan ternyata dia adalah, “Ini lagi menikmati suasana Is”, Iis adalah salah satu wanita “cantik” dalam rombongan ekspedisi Gunung Nadem di Pulau Artamus.
“Aku nggk ganggu kamu kan?”, tanya Iis sambil mendekat.
“Oh… jelas tidak Is”, ku jawab sambil tersenyum dan berkata dalam hati (aku senang bisa kamu ajak ngobrol)
“Aku lagi bingung nih ron”, keluh Iis sambil memasang wajah yang gelisah sembari memposisikan diri duduk.
“Bingung kenapa emangnya Is?”, tanya ku seraya berharap dia mau bercerita dan menghampiri duduk di sebelahnya.
“Emm… Aku ada beberapa pertanyaan ron, mungkin kamu bisa menjawabnya”, jawab Iis sambil memandang ku penuh dengan berharap *PD gila
“Oh… boleh kok Is, aku akan jawab sesuai dengan kapasitas ku ya Is”, jawab ku dengan ajaran rendah diri di hadapan seorang wanita.
“Gini ron, menurut kamu ya mana terlebih dahulu yang diciptakan, hewan atau alam?”, tanya Iis dengan wajah yang tulus.
“Menurut ku ya Is, lebih duluan Bumi ini yang diciptakan. Dengan demikian, Raja semesta alam kemudian menciptakan Hewan dan Alam secara bergantian”, jawab ku dengan masih tenang
“Hem… Kalau begitu, menurut kamu mana yang lebih dulu diciptakan, penemu apa peniliti?”, tanya Iis kembali.
“Kalau menurut ku, yang pertama diciptakan adalah Pemikir. Dengan demikian, pemikir akan menciptakan gagasan mereka dengan cara penemuan dan penilitian sebagai kesempurnaan gagasan mereka”, jawab ku yang sudah mulai bingung.
“Oke deh, kalau begitu menurut kamu yang lebih dulu diciptakan, manusia baik atau buruk?”, tanya Iis yang sekarang menatap ku dengan serius.
 “Em…Kalau menurut ku lebih dulu manusia baik yang diciptakan daripada manusia buruk. Karena sebenarnya kita di ciptakan serupa dengan Raja semesta alam dengan harapan dan tujuan menjalankan apa yang sudah menjadi konseptualnya.” jawab ku dengan tegas.
“Em… Ini yang terakhir ya ron. Menurut kamu nih ya, mana yang lebih diciptakan, orang kaya atau orang miskin?”, tanya Iis dengan lirih.
Aku masih terdiam dan tidak langsung menjawab seperti pertanyaan yang sebelumnya Iis tanyakan. Sekitar 5 menit aku berpikir, akhirnya aku berani untuk menjawab.
“Kalau menurut ku ya is, lebih duluan orang miskin. Karna sejatinya kita terlahir di dunia ini tanpa bekal harta duniawi,” jawab ku dengan sedikit bingung dan kemudian aku berbalik bertanya.
“Kenapa kamu bertanya demikian Is?”, tanya ku dengan penasaran sambil menatapnya.
Iis hanya tersenyum padaku dan beranjak pergi dariku. Aku semakin bingung apa sebenarnya maksud pertanyaan dari Iis tersebut. Coba ku merenungi sebenarnya apa maksud Iis bertanya hingga aku dibuatnya bingung.
     Siang telah berlalu dan ini adalah hari terakhir ku di tempat ini. Malam menemani ku dalam kebingungan pertanyaan yang diberikan Iis. Sungguh maksud ku, kenapa dia bisa memberi ku pertanyaan yang sampai membuat ku bingung. Ku lihat Iis sedang berkemas pada beberapa barangnya. Sebenarnya aku ingin sekali menghampirinya kemudian menanyakan apa sebenarnya maksud dari pertanyaannya tersebut. Namun, aku masih terlalu canggung untuk menghampirinya. Dengan berpikir panjang, aku akhirnya memberanikan diri untuk bertanya pada Iis apa sebenarnya maksud dari pertanyaannya.
     “Is, aku ganggu nggk?”, tanya ku padanya dengan sedikit canggung.
     “Iya ron, emang ada apa ron?”, balas Iis dengan senyuman penabur suka.
     “Ini lo is, aku mau tanya sama kamu”, jawab ku dengan cukup tenang.
     “Oh, silahkan aja ron. Soal apa ron? Jangan yang sulit ya?”, balas Iis dengan tertawa kecil.
     “Oh nggk kok is, tenang saja. Jadi, sebenarnya aku penasaran sama maksud kamu yang tanya-tanya ke aku yang siang tadi itu lo?”, tanya ku dengan sedikit bingung.
     “Oh… itu ya ron. Gini ajar on, aku akan jelaskan maksud ku dengan media kayak bumbu-bumbu dapur gitu saja gimana ron, karna aku malu untuk mengakuinya”, jawabnya dengan kepala tertunduk.
     Tanpa pikir panjang pun aku langsung mau untuk dijelaskan tentang maksudnya lewat media. Iis meminta ku untuk mengambil gula dan garam. Kemudian aku berbegas menghampiri teman-teman yang lain untuk mengambil gula dan garam. Kemudian Iis meminta tolong aku untuk merasakan gula dan garam tersebut. Tanpa merasakan pun aku pikir sudah jelas keduanya memiliki rasa yang berbeda. Namun, aku tidak bisa menolak permintaan Iis untuk merasakan gula dan garam itu.
     “Gimana ron rasa keduanya?”, tanya Iis.
     “Manis dan asin, Is”, jawab ku dengan tegas.
Dengan tersenyum kemudian Iis bertanya lagi,” Gimana ron rasanya sayur kalau nggk di kasih garam dan gimana rasanya teh kalau tidak dikasih gula?”.
     “Kalau sayur tanpa garam jelas kurang sedap is, dan kalau teh tanpa gula masih ada yang suka sih,” jawab ku dengan sambil tertawa.
Setelah ku menjawab soal rasa itu, tiba-tiba Iis meneteskan air mata. Aku bingung apa sebenarnya yang terjadi pada Iis, bahkan aku belum bisa mengartikan maksud pertanyaan Iis yang dijelaskan lewat media rasa tersebut. Tak berselang lama Iis menceritakan semua kejadian yang sebenarnya dia alami. Dia merasa bahwa teman-temannya tidak bisa menerima Iis sebagai seorang sahabat. Dia merasakan hal tersebut setelah teman-temannya tahu bahwa dia sebenarnya bukan anak orang kaya. Dia sengaja merahasiakan ini semua demi bisa diterima di kalangan teman-teman yang dia inginkan. Dia merasa teman-temannya hanya mau menerima yang secara ekonomi seperti mereka.
Tanpa berpikir panjang, aku berkata pada Iis,” Kalau misalkan aku mau kamu jadi teh gimana is?,” pinta ku dengan senyum.
Iis tak mengatakan apapun kepada ku dan dengan tiba-tiba dia memelukku. Aku sungguh merasa iba pada iis ketika mendapat perlakuan seperti itu. Status ekonomi Iis ini yang menjadi sayuran tanpa garam bagi teman-temannya yang memiliki status ekonomi lebih tinggi. Sesungguhnya Iis hanya perlu menjadi teh saja, karena mau tawar dan manis pun tetap ada orang yang menyukainya, dengan kata lain mau status ekonomi iis rendah maupun tinggi, pasti ada orang-orang yang mau menerimanya sebagai teman.

Rabu, 14 Januari 2015

Manusia Nirkabel



Siang itu, siang yang sangat terasa panas dan melelahkan. Sungguh, karena hampir 5 tahun lamanya aku melakukan percobaan untuk penemuan ku. Lama waktu yang ku tempuh itu akhirnya membuahkan hasil di hari ini. Di hari ini pula aku hanya mampu merenungi dan bersyukur dengan penemuan ku. Sampai senja bahkan malam ketika aku akan tidur aku hanya melakukan hal itu.
Kini, ku bersiap menutup mata ku di malam ku yang terasa akan baru di pagi ku esok, maksud ku memang akan ada hal baru yang akan aku temukan di pagi ku esok. Semua sudah ku lakukan sepanjang 5 tahun bahwa aku telah menciptakan sebuah penemuan yang akan mengubah dunia kelak. Penemuan ini akan mengganti kan peran seluruh ibu tanpa mengurangi afeksi dari ibu. Penemuan ini tidak di dedikasikan untuk ibu semata, namun tidak semerta untuk ayah, penemuan ini di dedikasikan untuk seluruh insan yang telah berperan penting untuk kehidupan orang lain, maksudnya kalian akan mampu mengganti peran orang yang kalian cintai yang sudah pergi.
“Rrrrr…Terdeteksi bahwa anda harus bangun”
“Ada pekerjaan yang akan menanti mu”
Suara ini terdengar dekat oleh telinga ku, bahkan rasanya seperti saat aku menggunakan earphone. Ku buka mata dan coba bertanya padanya.
     “Sekarang masih jam berapa?”, tanya ku padanya .
     “Rrrrr…Sekarang jam 06.10.06”
Begitu lengkap penjelasan waktu yang dia sampaikan pada ku, maksud ku per second pun dia sampai harus menyampaikan.
     “Sebutkan saja deadline ku hari ini!”, perintah ku.
     “Rrrrr…Jam 06.30 breakfast, Jam 07.00-12.00 kuliah, Jam 12.00-12.30 lunch, 12.30-14.00 les musik, 14.00-15.00 istirahat, 15.00-17.00 futsal, 18.00-20.00 hangout, 21.00-end sleep”, jawabnya dengan lengkap.
Ini lah yang aku maksud dengan membantu setiap insan yang telah berperan penting untuk kehidupan orang lain. Maksud ku, mudah bukan dengan penemuan ini kita tidak akan merasa kehilangan dengan orang yang sudah sangat dekat dengan kita. Penemuan ini akan mengubah dunia nantinya, jika benar-benar di gunakan dengan baik, maksud ku bukan jika kita tidak mau merawat orang lain. Karena insan ini adalah manusia, dengan alasan itu pula aku mematenkan penemuan ini dengan sebutan Manusia Nirkabel.